SEMUA boy band yang muncul di televisi, tidak ada yang bagus.Kritik superpedas di atas menyembul di forum dunia maya. Kritik yang membuat kuping Bobby (28) sempat memerah. Maklum, bintang sinetron Si Yoyo dan Cinta Fitri itu baru saja membentuk boy band, Mr. Bee.
Singel mereka, “Let Me Go”, karya Risna Ories mengangkasa di radio-radio daerah.
“Saya tahu betul, boy band pendahulu kami punya banyak penggemar sekaligus penghujat. Kalau kami lantas disamakan, itu konsekuensi. Tidak apa-apa,” ucap Bobby saat datang ke kantorBintang beberapa waktu lalu.
Padahal, perjuangan Bobby meretas Mr. Bee tidak main-main. Faktanya, tak gampang mencari dan memadukan karakter Kornelius Christian (23), Febry Pramanda (21), Edho Zell (24), dan Febrian Novanda (22). Konsep Mr. Bee mulanya bukan lima serangkai.
“Awalnya, ingin membentuk trio. Waktu itu, label dan teman kurang yakin jika tampil bertiga. Lagi pula kalau trio, nanti kami disangka Trio Libels,” canda Bobby.
Bobby mencari para kandidat di situs jejaring sosial Twitter dan Facebook. Bahkan ia siap menerima demo vokal lewat surat elektronik.
“Suatu ketika saya jalan-jalan ke Interstudi Blok M. Seorang teman merekomendasikan nama dari A sampai Z. Lalu saya
bertemu Febry Pramanda,” kenangnya. Ternyata, Febry dan Bobby pernah bertemu setengah tahun yang lalu.
bertemu Febry Pramanda,” kenangnya. Ternyata, Febry dan Bobby pernah bertemu setengah tahun yang lalu.
Kala itu, Bobby memandu acara off air di Serpong, Tangerang.
“Saya pernah dikerjai Bobby. Setelah itu dia menyalami saya sambil berkata: Sampai bertemu, ya di dunia entertainment kelak. Mungkin ini yang disebut takdir,” Febry mengingat. Lain halnya dengan Febrian Novanda. Dulu, Febri adalah pembenci Bobby.
Febry ditemukan Bobby di kampus London School, Jakarta. Febri adalah president of choir.
“Waktu itu saya latihan di sana dan Bobby sedang hunting personel di tempat yang sama. Sebenarnya saya enggak suka Bobby. Dulu saya sering lihat Bobby di televisi di acara Super Soulmate. Menurut saya, dia sok eksis dan sering heboh sendiri. Mungkin ini yang namanya jodoh. Ternyata suara saya disukai. Sekarang malah kerja sama dengannya,” Febrian menukas.
Sementara Kornelius mengirimkan demo suara lewat voice note. Cerita menarik lainnya, datang dari Edho.
“Dia teman sejawat saya,” beri tahu Bobby.
Edho teman yang paling mendukung Bobby untuk membentuk boy band. Dia yang paling ceriwis menanyakan kabar proyek boy band lewat BlackBerry Messenger (BBM). “Hei, bagaimana proyek boy band? Sudah bereskah?” begitu Edho menyemangati.
Tapi tidak pernah terlintas dalam benak Bobby untuk mengajak teman dekat bergabung di sini. Lama-lama Bobby berpikir, kenapa Edho tidak diajak? Mengingat, dia menguasai dance, hip-hop, mahir ngerap.
“Dan dia punya banyak sekali link menuju off air event. Itu yang penting. Hahaha,” sambungnya disusul derai tawa.
Berkaca dari pengalaman boy band lain, lima sekawan ini punya banyak siasat menangkis kritik pedas. Berangkat dari pemahaman, mulut orang tidak bisa diatur. Komentar adalah ungkapan spontan. Persoalannya, bagaimana menanggapi kritik dan menjawabnya dengan perubahan nyata. Kritik dijawab ketika menggelar show.
“Kami baru punya singel. Jadi kalau manggung, kami membawakan ‘Let Me Go’ dan hit lawas penyanyi lain. Misalnya, mengubah ‘C.I.N.T.A’ dari Bagindas yang mellow-Melayu menjadi jazz berbalut pop. Aransemen musik dan vokal baru adalah kuncinya,” Edho menjawab.
Tampaknya, metode ini terinspirasi inovasi Andi Rianto saat mengaransemen lagu-lagu hit dalam Harmoni. Publik masih ingat saat Andi menyulap “C.I.N.T.A” lalu dinyanyikan Vina Panduwinata dengan tempo upbeat, tidak ubahnya hit fenomenal “Burung Camar”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar